Yusril Koto Ungkap Proyek Siluman, Masyarakat Pulau Kasu Desak Pertanggungjawaban

Polemik mengenai proyek pembangunan di Pulau Kasu, Kecamatan Belakang Padang, Kota Batam, semakin memanas setelah tokoh masyarakat setempat menanggapi dengan keras pernyataan yang disampaikan oleh Yusril Koto. Dalam unggahan di akun TikTok-nya pada 9 Juni 2026, Yusril mengklaim adanya proyek siluman di wilayah tersebut yang diduga melibatkan oknum dewan. Pernyataan ini memicu kemarahan masyarakat yang merasa dicemarkan nama baiknya.
Reaksi Masyarakat Pulau Kasu
Menanggapi pernyataan Yusril Koto, sejumlah tokoh masyarakat Pulau Kasu menyatakan keberatan dan meminta agar Yusril bertanggung jawab atas ucapan yang dianggap merugikan. Dalam sebuah video yang diunggah oleh akun TikTok @alelbeck, mereka menyampaikan ketidakpuasan terhadap istilah “proyek siluman” yang digunakan oleh Yusril.
Salah satu tokoh masyarakat menegaskan, “Kami sangat tersinggung dengan sebutan proyek siluman. Yusril adalah orang terpelajar, seharusnya dia lebih berhati-hati dalam berbicara.” Pernyataan ini menunjukkan betapa seriusnya masyarakat Pulau Kasu menanggapi isu yang menyangkut reputasi mereka.
Permintaan untuk Klarifikasi
Masyarakat setempat mengajak Yusril Koto untuk datang langsung ke Pulau Kasu dan melihat kenyataan di lapangan. “Kalau Yusril ingin tahu lebih jauh, silakan datang ke sini. Kami ingin menunjukkan bagaimana masyarakat kami bersatu dan berkontribusi dalam pembangunan,” ungkap salah satu pemuda yang mewakili Forum RT/RW.
- Tokoh masyarakat merasa difitnah.
- Proyek yang dimaksud adalah hasil swadaya masyarakat.
- Masyarakat tidak bergantung pada bantuan luar.
- Berbagai pembangunan telah dilakukan sejak 2018.
- Permintaan untuk bertanggung jawab jika tidak dapat membuktikan tuduhan.
Proyek Pembangunan di Pulau Kasu
Masyarakat Pulau Kasu mengklaim bahwa berbagai proyek pembangunan yang berjalan di wilayah mereka bukanlah hal baru. Ketua Forum RT/RW, Dani, menyatakan bahwa program-program tersebut sudah berlangsung sejak tahun 2018 dan terus berlanjut hingga saat ini. “Kami sangat menyayangkan pernyataan Bapak Yusril. Proyek-proyek ini bukanlah sesuatu yang tiba-tiba muncul,” jelasnya.
Dani juga menegaskan pentingnya transparansi dalam setiap proyek yang dilakukan di daerah mereka. “Kami mengundang Yusril untuk datang dan membuktikan apakah ada yang namanya proyek siluman. Jika tidak, kami akan menuntut pertanggungjawaban atas ucapannya,” imbuhnya.
Keberadaan Proyek Swadaya
Sejumlah tokoh masyarakat menekankan bahwa sebagian besar pembangunan sosial dan keagamaan di Pulau Kasu dibiayai secara mandiri oleh masyarakat. “Masjid yang ada di sini, misalnya, dibangun atas swadaya masyarakat. Kami tidak ingin disebut sebagai pengemis bantuan,” tegas salah satu tokoh. Ini menunjukkan semangat gotong royong yang tinggi di kalangan warga setempat.
Masyarakat Pulau Kasu merasa bahwa istilah “proyek siluman” telah menciptakan stigma negatif yang tidak adil. “Kami merasa diperlakukan tidak semestinya. Seolah-olah semua usaha kami sia-sia dan tidak ada transparansi,” ungkap mereka dengan nada kecewa.
Harapan untuk Penyelesaian yang Baik
Para tokoh masyarakat berharap agar masalah ini dapat diselesaikan dengan cara yang baik dan terbuka. Mereka menginginkan klarifikasi dari Yusril Koto dan fakta-fakta yang dapat menghindari kesalahpahaman di antara masyarakat. “Kami ingin ada dialog yang konstruktif, bukan hanya tuduhan yang tidak berdasar,” kata mereka.
Seruan untuk Transparansi
Masyarakat Pulau Kasu berharap agar semua pihak, termasuk Yusril Koto, dapat lebih transparan dalam menyampaikan informasi terkait proyek pembangunan. “Kami mengundang semua pihak untuk melihat kondisi kami secara langsung. Jangan hanya mendengar dari jauh,” seru salah satu pemuda. Ini adalah seruan untuk kolaborasi dan pemahaman yang lebih baik antara masyarakat dan pihak-pihak terkait.
Dengan adanya protes dan permintaan klarifikasi ini, diharapkan kedepannya akan ada komunikasi yang lebih baik antara masyarakat Pulau Kasu dan para pemangku kepentingan. Mereka ingin menunjukkan bahwa mereka mampu berkontribusi dalam pembangunan tanpa harus mengandalkan bantuan dari luar.
Menjaga Reputasi dan Kemandirian Masyarakat
Di tengah berbagai tantangan, masyarakat Pulau Kasu menunjukkan keteguhan dalam menjaga reputasi dan kemandirian mereka. Mereka merasa perlu untuk mempertahankan nama baik dan membuktikan bahwa proyek-proyek yang ada adalah hasil kerja keras mereka sendiri. “Kami akan terus berjuang untuk hak kami dan menunjukkan bahwa kami mampu berbuat lebih,” tegas salah satu tokoh masyarakat.
Ketua Pemuda Pulau Kasu juga menekankan pentingnya menjaga kemandirian dalam pembangunan. “Kami ingin berdiri di atas kaki sendiri. Dukungan dari luar tentu akan diterima, tetapi kami ingin membuktikan bahwa kami bisa,” pungkasnya. Ini adalah semangat yang harus terus dipupuk agar masyarakat Pulau Kasu tidak hanya menjadi penerima bantuan, tetapi juga sebagai pelaku utama dalam pembangunan daerah mereka.
Dengan adanya situasi yang terjadi saat ini, masyarakat Pulau Kasu berharap agar semua pihak dapat lebih memahami kondisi mereka dan tidak langsung menghakimi tanpa mengetahui fakta yang ada. Mereka percaya bahwa dengan dialog yang terbuka dan saling menghargai, semua kesalahpahaman dapat diatasi.





